Aku percaya, semua orang pasti punya 'klik' dengan orang yang disayang. Salah satu bentuk 'klik' itu bernama firasat. Saat akan terjadi sesuatu dengan seseorang yang kita sayang, ada perasaan berbeda dari biasanya. Satunya lagi bernama telepati. Ketika orang yang kita sayang sedang bersedih, kita akan merasa sedih di saat yang sama meskipun jarak memisahkan.
Firasat buruk menderaku sejak kubuka mata minggu itu. Entah mengapa pikiranku langsung tertuju pada adik yang sejak pagi ke luar kota. Ketika ia berangkat, aku masih terlelap. Aku hanya tahu, ia bersama beberapa temannya mengendarai xenia milik seorang pemilik rental.
Otakku tak kunjung mengencer walau mata tlah terbuka cukup lama. Badan terasa tak nyaman. Aku benar-benar tak termotivasi hari itu, padahal aku harus menjalani tugas reportaseku. Jarum jam bergeser dengan cepat, kepalaku terasa berat. Mau tak mau, aku beranjak dari ranjang putih-biru nan lucu. Bergegas melakukan ritual air dan sabun. Bersolek sejenak dan memacu N 2813 XB-ku.
Assignment DONE! Aku lelah dan hanya ingin mengatupkan mata hingga terlelap seiring terik yang menyengat. Biar kubuka lagi mataku nanti ketika adzan Maghrib terdengar (toh, aku sedang cuti, tak harus kunanti adzan Ashar). Soner W830i-ku berdering, aku terbangun. "Adek Gw UPIT", sekejap kuangkat ponsel putih pemberian VLadD.
"Kak, aku kecelakaan di Tuban. Mobilku ditabrak orang naik motor kenceng. Orangnya masuk RS, mobil ditahan. Aku harus gimana? Buruan kabarin ya kak!" seru "Adek Gw UPIT" dengan suara penuh kekhawatiran.
DAMN! Aku tau, ini yang kupikirkan sejak tadi pagi. Kenapa firasat itu...? ARRRRRGGGGGGGGHHH!!!
Minggu berlalu, senin berlalu, baru selasa "Adek Gw UPIT" bisa pulang ke Surabaya. Setelah urusan GREAT DAMN SUCK ama **PARAT2 itu akhirnya selesai dengan KERUGIAN telak pada "Adek Gw UPIT". Bukan sekadar kerugian materi, lebih pada RUGI WAKTU, TENAGA, PIKIRAN, PSIKIS, dan segala sesuatu yang tak ternilai bagi **PARAT2 itu. Thanx to anyone who help my lil' sista with all pleasure...
Double DAMN! Selasa malam dan aku belum juga mampu memfokuskan pikiran pada artikelku tentang rokok. Bercanda dengan dua orang teman, kuselimurkan semua aura negatif yang menanung di sekitar wujudku. "Adek Gw UPIT" berkelap-kelip lagi di layar W830i-ku. Ah, tenang...dia udah sampe rumah niy berarti.
"kak, aku udah sampe Surabaya. tapi, ini aku kecelakaan lagi, nabrak orang di depan JMP. Kamu ke sini ya kak! Bawa temen cowok, plisssss..." nada khawatir kentara jelas dalam suaranya. Aku dua kali lipat lebih panik dan khawatir daripada "Adek Gw UPIT". Airmata meluncur begitu saja, dadaku sesak rasanya. Segara kuringkas semua barang di meja, aku bergegas pamit meninggalkan kantor. Untunglah seorang teman berbaik hati mengantarkan aku. Mungkin dia iba melihat wajahku yang tak karuan dan sedikit gemetar.
Kami pergi ke TKP, setelah berputar sebanyak dua kali (hampir aja dapet piring cantik!) akhirnya kami menemukan "Adek Gw UPIT". Dia tampak tenang walau aku tahu ada ribuan beban menghujam di kepalanya. Kami harus berkelit dengan korban dan polisi di sana. Sungguh melelahkan. Dan, aku tahu, "Adek Gw UPIT" merasakannya dengan sangat, lebih dari dua kali lipat sepertinya.
Akhirnya, kami bisa pulang ke rumah dengan xenia tanpa spion. Seperti berjalan tanpa mata, lamat-lamat seperti kura-kura. Seperti dugaanku, dengan tangis mama menyambut "Adek Gw UPIT". Ya, hanya aku, "Adek Gw UPIT", dan mama yang tahu sebesar apa nilai kami satu sama lain dalam hidup kami. Aku yakin, tak semua orang punya cinta sebesar kami.
"Adek Gw UPIT" tak menceritakan kecelakaan keduanya karena kami tahu, itu akan menambah kelam matanya. Hanya kami yang tahu tentang kecelakaan kedua (tentu seorang teman baikku, polisi, dan korban juga tahu). Ah, sungguh melelahkan.
Rabu datang, beban belum juga hilang. "Adek Gw UPIT" masih harus berurusan dengan pemilik rental dan membawa xenia itu ke bengkel langganan kantor papa. Tak tanggung2, letaknya di kawasan perak, waduw! Tadinya, tante tetangga yang baik itu mau menemani "Adek Gw UPIT". Agak sulit bagiku menemani karena hari ini deadline. Syukurlah tante bersedia.
Sepersekian detik sebelum jam janjian, tante tetangga menelpon sembari merintih dan terisak. "Aku kecelakaan ma, motorku ditabrak. Ini aku lagi dalam perjalanan ke rumah sakit. Tolong jangan bilang ibuku. Maaf, aku nggak bisa anter dek Amel," kata tante tetangga pada mama.
Yeah, then i have to accompany my lil' sista. Bring my lovely lappy. Doing my job in a turtle xenia. Nunggu pemeriksaan ini-itu. Barulah vonis. Then, the turtle xenia will be back in 3 days. Ow man...still dunno, how much will we spent to bring it back.
Aku harus segera ke kantor. Ah, turtle xenia harus 'operasi' di sana. Aku dan "Adek Gw UPIT" berjalan melawan terik, menanti Lyn D, angkot yang akan membawa kami kembali ke ** gang XV no. 8. Ah, akhirnya...sungguh melelahkan. (to be continued...)
Recent Comments